Balai Bahasa Sulawesi Tengah

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Artikel

Artikel “Idulfitri dalam Puisi”

Malam lebaran, gaung kemenangan mengudara. Suara takbir bersahutan mengetuk nurani dan menandakan kemenangan sejati. Hingga pagi, gema takbir masih kukuh menolak sepi. Selebrasi kemenangan bagi setiap muslim yang telah melawan belenggu hawa nafsu selama bulan Ramadan mengantar menuju hari yang fitri.

Dosa yang menjadi daki di hati akan luluh di bulan Syawal yang fitri. Pada bulan yang suci ini segala kesalahan akan terampuni dalam balutan silaturahmi. Impresi ini mengendap pada nurani umat muslim setiap Idulfitri menghampiri. Dosa dan kesalahan yang mereka perbuat selama sebelas bulan yang lalu akan luluh melalui jabat tangan pada hari raya Idulfitri.

Lebaran merupakan perayaan akbar bagi muslim di negeri ini. Demi merayakan lebaran, jutaan manusia bergerak menuju kampung halaman. Cita-cita, impian, uang, dan mobil merayap menuju penjuru desa dan kota di negeri ini. Sukacita dan lara tak luput melengkapi cerita pada Idulfitri.

Kita memaknai perihal lebaran melalui puisi Sitor Situmorang yang berjudul  “Malam Lebaran”. Puisi yang sangat mudah di hafal ini—karena hanya berisi satu bait—menggambarkan sukacita dan lara yang merayakan Idulfitri. Dalam bait Bulan di atas kuburan, terdapat gambaran bagaimana kebahagiaan dan kesedihan hadir secara bersamaan pada malam lebaran. Kebahagiaan bagi mereka yang bisa merayakan lebaran bersama keluarga dan saudara. Sebaliknya, terselip cerita pilu bagi mereka yang berlebaran jauh dari keluarga.

Setiap tahun kita selalu disuguhi berita tentang banyaknya orang yang melawan maut demi berlebaran di kampung halaman. Hal ini selalu dibarengi dengan cerita suka cita ataupun duka cita. Sebagian dari mereka meregang nyawa dalam perjalanan. Muara perjalanan mudik bukan sampai di kampung halaman, tetapi sampai di “sana”. 

Bermaafan dengan Semesta

            Adegan bersalaman dan saling memaafkan antarsesama merupakan fragmen yang berulang setiap tahunnya. Adegan ini adalah sarana untuk kembali menuju fitri. Dalam puisi gubahan Amir Machmud, kita diajak untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambut Idulfitri karena saat itu merupakan waktu yang terbaik untuk membersihkan hati, saling menghapus dengki, dan memahat silaturahmi “Siapkan pakaian putihku, sayang! agar aku tak selalu terlihat hitam”.

Lebaran juga berarti kepasrahan diri dan kembali menjemput kasih sayang Ilahi. Melibatkan-Nya dalam hidup kita sehari-hari, seperti yang ditulis oleh Sutarji Aku bawa masjid dalam diriku, Kuhamparkan di lapangan, Kutegakkan shalat, Dan kurayakan kelahiran kembali, disana. Dengan puisi tersebut, kita dapat memaknai bahwa lebaran adalah sarana manusia kembali menemukan Tuhannya. Maksudnya, menghadirkan Tuhan dalam kehidupan kita.

Manusia merupakan mahluk yang memikul tugas berat, yaitu sebagai khalifah di bumi. Keseimbangan alam semesta dan isinya merupakan hal wajib yang harus manusia cipta dan jaga sesuai dengan tugasnya. Bukan hanya hubungan vertikal—antara manusia dengan Tuhan—yang harus dijaga, melainkan juga hubungan horisontal—antara manusia dengan manusia lain serta alam semesta—juga harus dijaga.

Mustofa Bisri melalui puisinya yang berjudul “Selamat Idulfitri” mengajak pembaca untuk merenungi bagaimana selama ini hubungan horisontal terjalin yang dibingkai dalam nuansa Idulfitri. Gus Mus juga mengajak pembaca untuk mengenang laku kita terhadap bumi, langit, mentari, laut, burung-burung, dan tetumbuhan. Perlu kita renungi makna selamat Idulfitri, tetumbuhan, maafkan kami, selama ini, tidak puas-puas kami menebasmu.

Betapa seringnya muncul berita tentang hutan yang habis dibabat. Dari lumbung oksigen, beralih fungsi menjadi lahan pertanian maupun industri. Perlakuan manusia semacam ini tentunya bertolak belakang dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi sebab tindakan demikian lebih banyak tidak memperhatikan keseimbangan alam.

Tugas manusia sebagai khalifah pada momentum bulan suci ini agaknya penting. Setidaknya, mari sekejap menilik kepantasan titel manusia sebagai khalifah di dunia! Momentum selebrasi kemenangan setelah memasung nafsu selama satu bulan, juga harus dibarengi dengan kebajikan terhadap alam semesta.

Lebaran dan Baju Baru

            Baju baru merupakan piranti yang tak bisa dilepaskan dari euforia Idulfitri. Bagi sebagian orang, perayaan Idulfitri tidak sah jika baju baru belum terbeli. Hal tersebut kemudian mentradisi. Maka tak heran, ketika menjelang Idulfitri toko pakaian tak pernah sepi pengunjung. Bahkan, banyak kita temui pedagang pakaian musiman yang hanya hadir saat menjelang Idulfitri. Bagai jamur di musim hujan, mereka tumbuh subur.

Lewat puisinya yang berjudul “Baju Bulan”, Joko Pinurbo menampilkan pertalian antara lebaran dan baju baru Bulan, aku mau lebaran. Aku ingin baju baru, tapi tak punya uang. Lewat bait itu kita diajak melihat realita pentingnya baju baru dalam sebuah perayaan lebaran. Sebuah pertalian yang erat, seolah tak bisa dilepaskan.

Perihal baju baru dalam perayaan lebaran memang bukan hal yang keliru sebab kita dianjurkan memakai pakaian yang terbaik dalam rangka menyambut bulan yang benar-benar fitri ini. Namun, baju baru bukanlah parameter seberapa berhasil kita dalam menyambut lebaran. Hal tersebut bisa kita dapati melalui puisi karya Sutarji Maka pagi ini, Kukenakan Zirah la ilaha illAllah. Keberhasilan kita dalam menyambut lebaran adalah seberapa kuat dan keras “baju” ketakwaan yang kita kenakan.

Dalam momen Idulfitri yang mulia ini, alangkah baiknya kita mereflesikan diri dan mengukuhkan keimanan yang sejati sebab keimanan inilah yang menjadi prasasti ketakwaan dalam hati. Seperti yang dituliskan oleh Taufiq Ismail Tak ada miskin tak ada kaya, Yang berbeda cuma amalnya.***

BIODATA PENULIS:

Muharsyam Dwi Anantama, lahir di Banyumas, 12 Juni 1995. Dosen Bahasa Indonesia di Universitas Lampung (UNILA). Tulisannya terpublikasikan di beberapa media massa.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *