Home » Artikel » Artikel “Ketika Hidar Amaruddin Membuat Makna Terasa Samar” oleh Akhmad Idris
Akhmad Idris

Artikel “Ketika Hidar Amaruddin Membuat Makna Terasa Samar” oleh Akhmad Idris

Ketika Hidar Amaruddin Membuat Makna Terasa Samar

***

Puisi dapat disebut sebagai jenis karya sastra yang paling mempesona sekaligus penuh enigma di antara karya sastra lainnya seperti novel maupun cerpen. Penyebabnya sebenarnya sederhana, puisi cenderung singkat, sedangkan novel atau cerpen cenderung lebih panjang. Kesan ‘singkat’ itulah yang membuat pencipta puisi dituntut lebih cermat dalam penataan bunyi, irama, dan makna khusus di dalamnya. Oleh sebab itu, makna puisi kerap kali mengandung berbagai teka-teki. Sebut saja seperti puisi Malam Lebaran karya Sitor Situmorang yang hingga saat ini masih ditemui banyak tafsirannya, karena kesamaran makna di dalamnya. Lalu, bagaimana cara memaknai puisi jika maknanya cenderung menyimpan enigma?

Michael Riffaterre (1978), seorang kritikus sastra yang berasal dari Prancis dalam Semiotic of Poetry mengungkapkan bahwa cara memaknai kesamaran puisi adalah membacanya terlebih dahulu, lalu menemukan tanda-tanda yang dirasa samar, kemudian menemukan sebab-sebab kesamaran tersebut, barulah maknanya dapat diketahui. Satu hal yang perlu digarisbawahi, yakni pembacalah yang memiliki tugas untuk memberikan makna, sehingga wajar-wajar saja ditemui tafsir yang berbeda dari banyak pembaca. Kesamaran puisi disebut oleh Michael Riffaterre dengan istilah ekspresi tidak langsung.

Ketaklangsungan ini disebabkan oleh tiga hal, yakni makna yang diganti (displacing of meaning); makna yang dibelokkan (distorting of meaning); dan makna yang diciptakan (creating of meaning). Displacing of meaning terjadi dengan cara mengganti makna yang sebenarnya dengan perumpamaan lain yang serupa, distorting of meaning dilakukan dengan cara mengungkapkan kebalikannya atau biasa disebut ironi, dan creating of meaning tercipta dengan cara menghadirkan makna baru dari hal-hal yang sejatinya tak berhubungan dengan makna, seperti rima; pemenggalan; atau tipografi.

Pada penghujung tahun 2020, Hidar Amaruddin merampungkan buku kumpulan puisinya yang berjudul Ada yang Lebih Sepi. Di dalamnya, terdapat 27 judul puisi yang dipenuhi kesamaran makna. Oleh sebab itu, tulisan ini berusaha membongkar sedikit⸻karena membongkar seluruh puisi adalah sebuah dosa besar pengulas terhadap penulis dan penerbit⸻dengan menggunakan pisau bedah ketaklangsungan ekspresi milik Michael Riffaterre.

Beberapa Gaya Hidar yang Samar

Pada sebuah puisi yang berjudul Akankah Kita, Hidar Amaruddin mencoba menyamarkan kesedihan dengan cara menggantinya dengan padanan lainnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini,

Ketika di dekatmu

Aku tak akan mengusap wajah, berapa pun aku lelah.

Mengamati tak ada lagi rintik yang jatuh

dari kelopak matamu (halaman 47)

Melalui kata ‘rintik’ tampak terdapat kesamaran makna di sana. Biasanya ‘rintik’ jatuh dari langit yang menjelma hujan, lalu Hidar justru menyebut ‘rintik’ jatuh dari kelopak mata. Berarti, Hidar Amaruddin sedang mengganti makna yang sebenarnya jatuh dari kelopak mata dengan kata ‘rintik’. Jika ditelusuri berdasarkan Kamus Serba Tahu KBBI, ‘rintik’ memiliki arti percik air, maka dapat disimpulkan bahwa percik air yang jatuh dari kelopak mata adalah air mata. Hidar Amaruddin mengganti ‘air mata’ dengan kata ‘rintik’ karena dua-duanya memiliki persamaan, yaitu sama-sama berupa percikan air.

Sementara pada judul puisi lainnya (Di Kepala Kami), Hidar Amaruddin kembali bermain-main dengan kesamaran makna lewat pembelokan makna. Hidar menampilkan hal yang tidak mungkin terjadi sebagaimana dalam kutipan berikut ini,

Kepala kami telah penuh dan sesak oleh untaian kebencian yang makin lama memutus saraf kemanusiaan. menggantinya dengan saraf kedengkian. membuat nurani lumpuh. menganggap semua musuh. apabila peristiwa ini berlarut tanpa henti. kami hanyalah seonggok daging bertubuh tanpa hati. (halaman 23)

Hidar Amaruddin melalui puisi di atas terlihat menyajikan ironi lewat frase ‘bertubuh tanpa hati’, sebab tak ada manusia yang bisa hidup tanpa hati di dalam tubuhnya. Hidar Amarudin secara sengaja menyelewengkan makna manusia yang hidup dengan manusia yang mati. Maksudnya: mau sesehat apapun manusia, jika ia tidak menggunakan hatinya, maka ia sejatinya adalah manusia yang mati. Atau jika dibahasakan dengan ungkapan yang lebih populer, ia hanya manusia, tetapi tidak menjadi manusia.

Kesamaran makna terakhir yang ditampilkan oleh Hidar Amaruddin dalam kumpulan puisinya adalah mencipta makna baru lewat tipografi dalam judul puisi Ingatan yang Kembali Datang. Puisi ini terdiri atas 9 baris dan pada baris ke-4 hingga ke-8 kalimat dicetak secara miring (italic), berbeda dengan kalimat-kalimat lainnya sebagaimana dalam kutipan berikut ini,

Saat kelopak terbuka

menetes linang air mata

Pada suatu masa

untuk apa tertawa bersama

lalu bersedih tiba-tiba

untuk apa bersatu

kalau tak berujung debu (halaman 59)

Dengan tipografi tersebut, Hidar Amaruddin dengan sengaja membuat makna baru melalui tulisan bercetak miring yang secara kebahasaan tidak berhubungan dengan kandungan makna. Hidar Amaruddin seolah ingin mempertegas ungkapan kesedihan melalui baris-baris yang bercetak miring. Ada semacam permintaan khusus kepada pembaca untuk memperhatikan empat baris yang bercetak miring tersebut, yakni sebuah tanya dari hati ke hati: mengapa sepasang kekasih tercipta untuk tertawa bersama, jika harus bersedih tiba-tiba?

Akhir kata, kesamaran makna nyatanya membuat puisi semakin kaya interpretasi.

Biodata Penulis:

Akhmad Idris. Seorang lelaki lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang terdampar di Bumi dengan selamat Sentosa pada tanggal 1 Februari 1994. Saat ini menjadi seorang dosen bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya Surabaya. Seorang lelaki pecinta wanita, tetapi bukan buaya; sebab tiada kesalahan dalam mencintai. Seorang lelaki yang mencintai dunia kepenulisan, meskipun tulisan-tulisannya biasa-biasa saja.

Check Also

Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Senin, 16 Januari 2023Dua staf Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *