Home » Artikel » Artikel Melestarikan Bahasa Daerah melalui Peran Duta Bahasa Sulawesi Tengah

Artikel Melestarikan Bahasa Daerah melalui Peran Duta Bahasa Sulawesi Tengah

oleh Moh. Zain Gifari Milang dan Nadya Zulaiha Putri Yakub

Duta Bahasa Sulawesi Tengah 2022

Bahasa terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kemunculan istilah-istilah baru dalam suatu bahasa, menunjukkan eksistensi bahasa dalam peradabannya. Selain memiliki fungsi utama sebagai wahana berkomunikasi, bahasa juga memiliki peran sebagai alat ekspresi budaya yang mencerminkan bangsa penuturnya. Menjadi ciri khas dan identitas negara, bahasa harus terus digunakan agar terjaga keberadaannya. Di wilayah NKRI, persoalan bahasa telah diatur dan diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan.  Pasal 25 ayat 2 menyatakan bahwa bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, serta sarana komunikasi antardaerah dan antarbudaya daerah. Selain mengatur bahasa Indonesia, UU tersebut juga mengatur tentang bahasa daerah. Pasal 42 ayat 1 menyatakan bahwa pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Badan Bahasa memetakan sekitar 718 bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. Banyaknya bahasa daerah di Indonesia menjadi salah satu kekayaan yang tidak ternilai harganya. Sayangnya, tidak semua bahasa daerah dapat terjaga dan terawat dengan baik. Beberapa bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok nusantara ini telah mengalami kepunahan dan terancam mengalami kepunahan.  Kepunahan dan ancaman kepunanah ini disebabkan beberapa hal seperti keengganan menggunakan  bahasa daerah karena dianggap kuno dan kurang modern. Orang tua yang tidak meneruskan bahasa daerah kepada anak-anaknya sehingga bahasa tersebut berhenti pada para orang tua saja. Perkembangan ilmu pengetahuan dunia juga memengaruhi masyarakat untuk meninggalkan bahasa daerahnya. Fenomena tersebut jelas mengancam bahasa daerah mengalami kepunahan. Kepunahan bahasa tentu mengikis nilai-nilai budaya yang seharusnya dijunjung oleh masyarakatnya. Keadaan tentu juga menjadi pemicu hilangnya kebudayaan karena bahasa dan budaya merupakan satu kesatuan erat yang tidak dapat dipisahkan.

Kepunahan bahasa daerah menjadi persolalan yang serius yang harus ditangani bersama, baik oleh pemerintah pusat, daerah, masyarakat, dan juga oleh generasi muda. Sebagai pewaris kebudayaan, maka nasib bahasa daerah terletak di tangan generasi muda sebagai penutur lanjutan bahasa tersebut. Semakin baik penutur menggunakan bahasa daerahnya, semakin terjaga pula bahasa tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa pelestarian bahasa daerah sangatlah sulit. Kesadaran penggunaan bahasa daerah, kurang dimiliki masyarakat. Keuniversalan globalisasi memungkinkan masyarakat berlomba-lomba menguasai bahasa lainnya dibandingkan bahasa dari daerahnya. Hal ini tentu membuat bahasa daerah semakin tertinggal. Tidak hanya itu, berbagai alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya. (Anto & Akbar, 2019). Jika sudah seperti ini, upaya pelestarian bahasa daerah harus dilakukan demi mempertahankan eksistensinya.

 Generasi muda tentu memiliki peranan penting dalam melestarikan bahasa daerah. Sejalan dengan itu, Duta Bahasa sebagai ikon generasi muda, telah berinovasi dalam upaya pelestarian bahasa daerah. Pelestarian bahasa daerah diupayakan dalam sebuah program yang dinamai  krida kebahasaan dan kesastraan. Krida ini dilakukan dalam bentuk pembelajaran seperti menciptakan produk kebahasaan, mengabdi, atau  menyosialisasikan pengutamaan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, dan penguasaan bahasa asing melalui media sosial seperti termaktub dalam Trigatra Bangun Bahasa.

Duta Bahasa Sulawesi Tengah melakukan berbagai metode krida bahasa agar dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat.  Menyusun modul pembelajaran hingga menciptakan permainan edukasi adalah salah satu wujud krida Duta Bahasa. Sasaran krida lebih difokuskan kepada anak usia dini karena mereka adalah tonggak paling kokoh dalam upaya melestarikan bahasa daerah. Anak usia dini menempati posisi yang sangat strategis dalam pengembangan sumber daya manusia. Usia lahir sampai enam tahun merupakan rentang usia kritis dalam proses pendidikan yang dapat memengaruhi proses serta hasil pendidikan tahap selanjutnya.

Krida Duta Bahasa Sulawesi Tengah tahun ini mengangkat tema  Ayo bermain dan lestarikan bahasa. Bentuk kegiatannya adalah mewarnai gambar sambil belajar bahasa daerah. Metode ini dianggap cocok karena anak tidak akan merasa bosan saat proses pembelajaran. Pengenalan bahasa daerah dimulai dengan  mengenalkan gambar yang erat dengan kehidupan sehari-hari, misalnya anggota keluarga. Tanpa sadar, anak dapat memahami bahasa daerah anggota keluarga. Selain menyenangkan, anak-anak juga lebih mudah mengingat dan bahkan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Krida yang berbentuk dalam sebuah buku mewarnai ini diberi nama Mompesani Sampesuvu Ta atau Ayo Saling Mengenal. Buku ini diperuntukkan untuk anak-anak prasekolah dengan menggunakan dwi bahasa, yakni bahasa Kaili dialek Ledo dan bahasa Indonesia. Buku ini didesain untuk menarik perhatian anak dan dapat  membuat suasana mewarnai anak-anak semakin menyenangkan. Pemilhan krida ini dinggap sangat efektif karena anak dapat memelajari beberapa hal dari mewarnai seperti belajar roda warna. Anak belajar mencampur dan mengombinasikan beberapa warna. Mereka juga akan belajar mengenali pola yang akan membantu dalam memutuskan warna apa yang akan digunakan dalam gambar.

Agar proses pembelajaran lebih menyenangkan, anak-anak juga diajarkan bernyanyi tentang anggota keluarga dan bermain tebak-tebakkan tentang anggota keluarga. Hasil survei terhadap beberapa TK menunjukkan bahwa krida kebahasaan tersebut berhasil meningkatkan kemampuan pengetahuan dan kemahiran kosa kata bahasa daerah anak. Pembelajaran yang efektif dan menyenangkan terbukti cocok diterapkan bagi pembelajaran bahasa daerah anak. Hasil uji coba juga menunjukkan bahwa  rerata anak menikmati dan menyenangi buku ini.

Metode pembelajaran bahasa daerah melalui buku mewarnai nyatanya menunjukkan keefektifan terhadap anak-anak. Melalui mewarnai gambar sambil bermain dan beryanyi, anak-anak memperlihatkan kemajuan yang sangat signifikan. Penentuan metode tersebut tidak ditentukan begitu saja. Dilakukan riset terlebih dahulu untuk mengetahui metode yang cocok diterapkan. Keberhasilan pelaksanaan krida kebahasaan tersebut tentu semakin memacu semangat Duta Bahasa Sulawesi Tengah untuk lebih menyebarkan buku Mompesani Sampesuvu Ta ke berbagai TK atau komunitas literasi yang ada di Sulawesi Tengah. Krida ini akan terus dilanjutkan dengan mengenalkan kosa kata budaya yang lebih menarik dan bervariasi sesuai dengan kebutuhan anak.

Berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan, maka disimpulkan bahwa upaya meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam mengenal kosa kata dapat dilakukan dengan cara mewarnai gambar yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara yang lebih menyenangkan yakni diselingi dengan bernyanyi dan bermain tebak-tebakan sehingga anak tidak jenuh. Guru dapat menerapkan proses mengajar dengan metode ini agar anak terbiasa dengan bahasa daerah. Dengan mengenal, anak akan mencintai bahasa daerah tersebut. Jika hal ini terus dikembangkan, maka keberadaan bahasa-bahasa daerah dapat tetap terjaga karena dituturkan dari generasi ke generasi.

Pengenalan bahasa daerah bagi anak usia dini merupakan salah satu cara untuk mempertahankan bahasa tersebut. Anak usisa dini yang dikenalkan dengan bahasa daerah berpotensi menjadi anak multibahasa, yaitu menguasai bukan hanya satu bahasa melainkan banyak bahasa. Oleh karena itu, mari kita turut melestarikan salah satu kekayaan bangsa dengan memperkenalkan bahasa daerah sejak dini kepada anak sebagai penerus identitas bangsa dalam rangka mewujudkan pelestarian bahasa daerah.

Referensi

Azis, A. (2016). Pembinaan Bahasa Indonesia.

Anto, P., Hilaliyah, H., & Akbar, T. (2019). Pengutamaan Bahasa Indonesia: Suatu Langkah Aplikatif. El Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran2(1), 17-24.

Budiarto, G. (2020). Dampak Cultural Invasion terhadap Kebudayaan Lokal: Studi Kasus Terhadap Bahasa Daerah. Jurnal Pamator: Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo13(2), 183-193.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Yati, D. (2015). Menyelamatkan Bahasa Daerah Melalui Pembelajaran Bahasa yang Komunikatif. Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa 2015. Unit Penerbitan FKIP Universitas Bengkulu.

Check Also

Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Senin, 16 Januari 2023Dua staf Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *