Home » Cerita Pendek » Cerpen “Assalamu ‘alaikum Cinta” oleh VITO PRASETYo
Artikel oleh VITO PRASETYO

Cerpen “Assalamu ‘alaikum Cinta” oleh VITO PRASETYo

Assalamu ‘alaikum Cinta

            Enam bulan sudah, Ratih melewati impiannya untuk meraih cita-citanya. Entah, sudah berapa puluh kali ia melamar pekerjaan dan selalu ditolak. Rata-rata perusahaan yang dilamar menolaknya dengan alasan klasik, tidak sesuai kriteria dan kebutuhan perusahaan. Ijazahnya, yang hanya Diploma D-3, sepertinya bukan jaminan untuk diterima. Apalagi Ratih belum memiliki pengalaman kerja.

            Suatu hari, ketika semangat Ratih mulai kendur, dia menerima panggilan wawancara di sebuah perusahaan besar. Meski sinar matahari begitu meyengat siang itu, kegembiraannya seakan mengalahkan terik matahari. Ratih pun bergegas untuk memenuhi panggilan kerja itu, tetapi harus melewati tes wawancara.

            Penampilannya yang sedikittomboi membuatnya sedikit bingung, harus mengenakan gaun apa untuk tes wawancara. Karena lingkungan rumah dan tetangganya yang begitu heterogen dan marjinal, sehingga mereka terbiasa dengan pakaian biasa dan sedikit bebas. Untungnya, tetangga Ratih begitu baik, tidak mempedulikan hal-hal yang sifatnya pribadi. Meski kampung mereka sedikit kumuh, letaknya di pinggiran kota.

“Maafkan ibu, Ratih. Seharusnya ibu yang membanting-tulang untuk kedua adikmu.”

“Ibu jangan berkata begitu. Yang penting ibu tetap sehat dan bisa tersenyum, itu membuat Ratih sangat bahagia.”

 “Assalamu ‘alaikum, Bu.” Ratih dengan cepat meninggalkan ibunya ketika pamit untuk berangkat memenuhi panggilan wawancara di perusahaan yang memanggilnya.

            Wajahnya berbinar, tak memedulikan terik matahari yang menghunjam pandangannya. Bagaimana tidak, sekian bulan Ratih hanya bisa memendam keinginannya untuk bekerja di sebuah perusahaan. Bekerja sebagai orang kantoran.

            Dalam perjalanannya, Ratih membayangkan seluruh penderitaan yang dilaluinya bersama keluarganya. Beberapa tahun lalu, Ratih mengantar ibunya ke dokter. Ibunya mengeluh sering capek dan kepalanya sering pusing. Sementara uang yang ada, peninggalan pensiun bapaknya hanya pas-pasan untuk biaya hidup sehari-hari. Sepuluh tahun lalu, Ratih ditinggalkan bapaknya. Bapaknya yang hanya pegawai kecil, meninggal dunia akibat kecelakaan. Adik-adik Ratih, kala itu masih kecil.

            Dalam ingatan Ratih yang selalu mengganggu pikirannya, ibunya. telah divonis menderita penyakit leukemia. Penyakit yang cukup berbahaya karena sewaktu-waktu bisa menyebabkan kematian. Pertentangan batin ini seperti batu-ujian buat Ratih untuk meraih impiannya, menjadi orang sukses demi ibu dan kedua adiknya. Ratih harus kuat dan tegar, tidak boleh jadi perempuan cengeng.

            Selama proses wawancara, Ratih sama sekali tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan personalia. Baginya, yang penting bisa cepat bekerja.

“Apakah saudara tidak merasa rugi. Perusahaan ini menerima karyawan hanya pada posisi pramusaji, sementara pendidikan saudara adalah diploma.”

 “Bapak ini bagaimana, saya melamar kesini dan dapat diterima sebagai karyawan, itu sudah luar biasa bagi saya.” jawaban Ratih mengalir begitu saja.

“Tapi…. ya sudah, mulai besok saudara bekerja dan harus disiplin tepat waktu.” Personalia tidak sempat menjelaskan alasannya, dia hanya heran dan merasa bingung melihat ekspresi Ratih.

            Ratih keluar dari ruangan personalia, betapa girang dan tidak sadar berteriak, sambil berjingkat. Spontan, karena gembiranya, dia memeluk seseorang yang ternyata orang tersebut wakil direktur perusahaan ini. Orang tersebut, Pak Rangga, yang kini memegang kendali perusahaan milik keluarganya. Direktur perusahaan ini adalah ibunya Rangga, Bu Maria. Ibunya Rangga sudah beberapa bulan tidak lagi masuk kantor, karena ada masalah keluarga yang membuatnya kehilangan gairah.

            Sejenak Rangga berteriak memanggil satpam untuk mengamankan Ratih, yang dianggap telah melecehkan Rangga di depan karyawannya.

“Bapak ini bagaimana? Saya ini karyawan baru disini, kenapa saya diusir!” bantah Ratih.

“Tidak, mulai saat ini juga kamu saya pecat!” Ratih pun berontak, tetapi security lebih sigap membawanya keluar dari kantor.

            Apa daya, yang awalnya Ratih begitu gembira, belum sempat bekerja, kini dia menyesali perbuatannya yang tidak sengaja kepada Rangga. Meski sebelum diusir, Ratih sempat meminta maaf kepada Rangga. Pupus sudah harapan Ratih, tetapi nalurinya memberontak untuk minta keadilan. Biar bagaimanapun, Ratih harus berjuang untuk mendapatkan posisinya kembali.

“Orang itu sinting barangkali” gerutu Ratih.

            Ratih bersikeras tidak mau meninggalkan kantor itu. Kantor yang terletak di daerah perkantoran elit dan megah, bagi Ratih adalah pertaruhan nasib bagi orang kecil. Ratih menunggu hingga kantor itu tutup, dan dia ingin mencegat Rangga. Belakangan Ratih mengetahui nama Rangga dari beberapa orang yang sering mangkal di depan kantor itu.

            Ratih begitu letih, setiba di rumah, Ratih disambut keluarganya bagai seorang pahlawan. Ratih bingung harus mengatakan bagaimana. Tidak ada pilihan selain sedikit berbohong demi membuat senang ibunya dan kedua adiknya. Masa-masa bulan terakhir yang dijalani keluarganya begitu berat. Apalagi kampungnya sempat diisolasi karena wabah pandemi.

“Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa meraih impianmu.” kata ibunya. Ratih hanya tersipu malu.

            Keesokannya, untuk tidak mengecewakan keluarganya, pagi-pagi sekali Ratih sudah berangkat meninggalkan rumah, seolah-olah dia mulai bekerja. Di pikiran Ratih, dia harus menuntut haknya. Dia bersikeras untuk bertemu dengan Pak Rangga dan ingin menjelaskan duduk persoalannya. Ratih kembali ditolak masuk kantor. Ada perasaan dendam di dadanya, kenapa Pak Rangga tidak punya hati nurani kepadanya?

“Saya akan menuntut Pak Rangga.” ancam Ratih kepada sekretaris perusahaan, yang sempat ditemuinya. Karena sekretaris itu juga seorang perempuan, ada rasa iba kepada Ratih, dan dia menyarankan untuk menemui Pak Rangga di rumahnya.

            Sesampai di rumah Pak Rangga sesuai alamat yang diberikan, Ratih begitu kaget karena perumahan yang didiami oleh Pak Rangga tidak jauh dari perkampungan tempat tinggalnya. Hanya sekitar satu  kilometer jaraknya. Perumahan mewah yang didiami oleh para pejabat dan orang-orang kaya. Pintu pagar rumah itu tertutup rapat. Ratih berkeyakinan, dia pasti dapat bertemu dengan Pak Rangga.

            Karena gerak-gerik Ratih sedikit mencurigakan, dari dalam pagar satpam menghampiri dan bertanya ke Ratih.

“Mbak ini cari siapa?”

“Cari Pak Rangga.”

“Kalau jam segini, Pak Rangga masih di kantor. Nanti sore baru pulang. Mbak ke kantornya saja.”

“Tidak Pak, biar saya tunggu disini saja.”

   “Yah terserah Mbak saja. Tapi saya tidak boleh buka pagar kalau tidak ada perintah.” Ratih hanya tersenyum  kecut mendengar penjelasan satpam.

            Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata Meliana, adik  Rangga mengintip dari jendela kamarnya, di lantai dua. Entah kenapa, tiba-tiba Meliana tergerak hatinya, turun dan menemui Ratih. Meliana mengajak Ratih untuk mengobrol di teras rumah. Meliana begitu kagum melihat Ratih, seorang gadis cantik yang berpenampilan sederhana. Tanpa terasa, mereka mengobrol cukup lama. Ratih akhirnya tahu bagaimana sikap dan sifat Rangga dari adiknya, Meliana.

            Dalam perjalanan pulang, Ratih sedikit bingung, kenapa sikap Rangga dan Meliana begitu jauh bertolak belakang. Meliana tipe gadis sabar, yang tidak pernah memedulikan status sosial seseorang, sehingga perkenalan dengan Meliana membuat Ratih berubah pikiran. Tidak semua orang kaya selalu bersikap sombong. Ratih belum siap untuk menjelaskan pada ibunya jika dia tidak jadi kerja.

            Ratih menerawang jauh, mencoba untuk membayangkan persoalan yang dihadapi Ibu Maria. Wanita kaya yang punya perusahaan besar, kemudian berpisah dengan suaminya karena Ibu Maria terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Hidup memang sebuah misteri. Kekayaan bukan jaminan bisa membuat orang bahagia. Bu Maria butuh orang yang bisa mengerti kondisi kejiwaannya, itu yang membuat dia memutuskan kepada Rangga, meneruskan perusahaannya.

            Tiba-tiba mengalir ide dalam pikiran Ratih, kenapa tidak melalui Meliana untuk mendekati Ibu Maria. Barangkali saja kehadiran Ratih dapat mengembalikan gairah hidup Bu Maria. Meski akhirnya Ratih mengetahui kalau Bu Maria berbeda keyakinan dengan dirinya. Apakah perbedaan itu harus selalu dipandang tidak dapat disatukan? Ratih sudah terbiasa dengan lingkungan kampungnya yang sangat heterogen.

            Hari-hari yang dilewati Ratih seakan menjadi ringan. Kini ia begitu akrab dengan dengan Ibu Maria. Dan tanpa direncanakan, beberapa kali Ratih bertemu dan makan bersama Meliana dan Rangga. Rangga pun seakan berubah total, seakan ingin menghapus kenangan manis bersama calon istrinya, yang akhirnya kandas karena kesibukan kerja Rangga.

            Semangat Ibu Maria pun seakan hidup kembali setelah sekian tahun bermuram diri berkat kehadiran Ratih. Akhirnya Ibu Maria tahu setelah berkunjung ke rumah Ratih. Bagaimana keluarga Ratih hidup dalam kekurangan serta Ibu Dewi yang tegar dan sabar dalam menghadapi ujian hidup.

            Hingga suatu saat, Ibu Maria datang ke kantornya menemui anaknya, Rangga. Luar biasa, Rangga begitu kaget setelah mengetahui ibunya datang bersama Ratih.

“Mama, hanya mengirim seseorang disini untuk membantu kamu menyiapkan makanan. Biar kamu tidak keluar makan siang di luar kantor.”

“Kenapa harus begitu, Ma.” balas Rangga.

“Iya, karena kamu harus mengembalikan haknya sebagai karyawanmu.”

            Masalah memang tidak segampang pikiran manusia, hati Rangga luluh dan sedikit demi sedikit tumbuh perasaan cinta kepada Ratih. Cuma Rangga bingung, dia dan Ratih terbentur oleh agama yang berbeda. Dan mamanya tahu apa yang dipikirkan Rangga. Bahwa cinta itu adalah perasaan yang tak berwujud tetapi bisa dirasakan, meski dengan perbedaan prinsip.

“Manusia selalu hidup dalam perbedaan, dan manusialah yang harus menyatukan perbedaan itu.” kata Ibu Maria seakan menangkap pikiran anaknya.

“Mama bisa kembali bahagia seperti ini, itu karena Tuhan sudah menghendakinya. Mungkin itu lewat tangan Ratih. Dia, perempuan hebat yang pantas jadi menantu mama.”

Rangga tersenyum lebar. Cinta memang tidak harus hanya melihat sisi yang sama.

“Assalamu ‘alaikum cinta.” agak gugup Rangga mengucapkan di hadapan Ratih. ***

Biodata Penulis:

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Kab. Malang Indonesia – Pernah kuliah di IKIP Makassar. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat budaya.

Buku Antologi Puisi: “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) – “2 September” terbitan Rose Book (2015) – “Jurnal SM II” (2015) terbitan Sembilan Mutiara Publishing (2016) – “Keindahan Alam” terbitan FAM Publishing (2017) “Ibu” terbitan FAM Publishing (2017) – “Tanah Bandungan” terbitan FAM (2018) – “Perempuan-Perempuan Kencana (2020) terbitan LISSTRA – Antologi Puisi “Sajak Dwiwangga – Dunia Tak Lagi Dingin” (2020) – Buku Antologi Puisi “Pendaki Bermata Pena” (2020) – Antologi Esai “Menakar Kebergizian Buku” Apajake.id (2021) – Buku Antologi Puisi “Luka Mimpi” WR Academy (2021) – Buku Antologi Puisi “Lelaki Pemburu Hujan” WR Academy (2021) – Buku Antologi Motikal “Bisai” Komunitas Durasi Paralay (2021) – Buku Antologi Puisi “Sabda Bumi” Media Literasi Indonesia (2021) – Buku Antologi Puisi “Sepeda dan Buku” Apajake.id (2021) – Buku Antologi “Dua Kota Dua Pulau” (2021) – Buku Antologi Puisi “Jejak Puisi Digital” Yayasan Hari Puisi Indonesia (2021) – Buku Antologi “Memancing di Tubuh Ibu” Litera.co.id

Check Also

Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Senin, 16 Januari 2023Dua staf Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *