Home » Cerita Pendek » Cerpen “Tentang Rindu” Karya Risen Dhawuh Abdullah

Cerpen “Tentang Rindu” Karya Risen Dhawuh Abdullah

Meninggalnya ayah tiga tahun lalu menimbulkan luka bagi aku dan ibu yang rasa-rasanya tidak bisa disembuhkan. Rasa kehilangan itu masih bersemayam walau tidak selebat saat dokter mengatakan kalau nyawa ayah tidak dapat ditolong. Bukan berarti aku tanpa usaha mengikhlaskan kepergian ayah. Aku pernah mencoba menanamkan keyakinan bahwa sejatinya manusia itu tidak mempunyai apa-apa, sehingga kata kehilangan seharusnya tidak ada dalam kamus hidupnya.

Mungkin aku dapat menyembunyikan rindu yang terkadang datang tanpa diundang. Tapi ibu? Sepasang matanya telah menjelma palung yang dalam bagi kesedihan bersemayam. Ada yang berubah dengan mata itu semenjak ayah tiada. Sepasang mata yang telah meredup itu seperti selalu ingin menumpahkan beban rindu.

Hampir setiap hari, ibu mengelap foto ayah yang ada di atas meja ruang tengah, foto itu dibingkai dan diletakkan secara berdiri. Sehingga apa yang ibu lakukan, menyebabkan foto itu selalu tampak mengkilat seakan masih baru. Memang ibu tidak pernah mengeluarkan air mata saat prosesi itu dilakukannya, tapi aku selalu melihat tatapan itu seperti berkata kalau ia ingin sekali bertemu dengan ayah. Sekali lagi, ibu benar-benar belum dapat menerima kepergian ayah. 

Atas perilakunya itu, ibu pernah kutegur beberapa kali. Teguranku tidak pernah mempan. Tidak kehabisan akal, aku menggunakan cara lain. Aku pernah berada pada masa-masa mengajak ibu sesering mungkin ke tempat-tempat yang indah, mengadakan tanaman-tanaman di halaman rumah yang tidak terlalu luas, berusaha dengan lebih keras menuruti apa yang dimauinya. Semua usaha itu hanya berujung pada kegagalan. Aku merasa berhadapan dengan tembok besar nan kokoh, yang tidak tahu bagaimana lagi menaklukkan keperkasaan dan kegagahannya. Rindu itu mengabadi di matanya.

Akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap ibu. Aku tidak mampu mengentaskannya dari perasaan tidak rela kehilangan. Ibu masih terus mengelap foto ayah setiap sore, lalu mengatur ulang letak foto itu dengan cermat, seakan benda itu sakral. Pada suatu ketika, aku tidak menyangka bahwa perilaku ibu akan menurunkan perilaku aneh yang lain dalam dirinya. Bahkan ini tidak lebih daripada sesuatu hal yang gila.

Sore itu, saat aku pulang dari kerja, ibu duduk di kursi teras dengan hp menempel di telinganya. Pembicaraan ibu dengan seseorang di seberang sana begitu asyik, bahkan sampai-sampai ia hanya menerima uluran tanganku tanpa berbicara. Lima belas menit kemudian, ibu belum juga ke dalam. Sementara itu aku asyik mengisi perut. Hingga aku selesai makan, ibu belum juga kembali. Aku melangkah menuju teras dan ibu masih setia berbincang ria. Aku membatin, apa yang dibahas sampai teleponan begitu lama?

“Dengan siapa, Bu?” kataku. Ibu sekejap menempelkan telunjuknya ke mulut, memberiku isyarat supaya aku diam.

Aku pun memilih kembali ke dalam. Hingga setengah jam kemudian, ibu belum juga ke dalam. Azan magrib berkumandang, bahkan ibu masih teleponan. Ini sungguh aneh. Padahal ibu adalah orang yang selalu melarangku agar menghentikan aktivitas saat azan magrib tiba dan menyuruhku untuk segera mengambil air wudu. Aku menjadi penasaran, siapa orang yang menjadi lawan bicara ibu. Aku menegur ibu supaya menghentikan telepon. Ibu bilang, “Sebentar lagi.”.

Sampai waktu isya kurang sepuluh menit, ibu belum juga berhenti. Kesabaranku telah hilang. Dengan nada kesal aku menyuruh ibu berhenti dan mataku langsung dibuat membelalak saat ibu berkata, “Sudah dulu, Yah. Ini anakmu sudah menegur untuk salat, memang salahku juga. Keasyikan melepas rindu, sampai lupa bersembahyang.”

“Yah?” Batinku. Dalam sekejap aku gemetar.

Ibu menutup percakapan. Aku mengingat-ingat kembali. Siapa saja orang yang dipanggil dengan sebutan yang diucapkannya tadi? Kepada kakek? Setahuku ibu tidak memanggilnya dengan sebutan itu. Aku lebih keras mengingat-ingat. Tidak kutemukan seseorang dalam kepala. Aku hanya ingat ayah. Ya, ayahku sendiri. Padahal ayah sudah….

“Ibu bicara dengan siapa tadi? Mengapa ibu memanggilnya ‘yah’?” tanyaku, tubuhku masih gemetar. Jelas saja, panggilan itu tidak bisa diterima akal sehatku. Mana mungkin ayah hidup kembali, padahal aku sendiri yang ikut menguburkan jasadnya?

“Dengan ayahmu, dengan siapa lagi? Apakah ada orang lain yang ibu panggil ‘ayah’ selain dia? Apa kamu lupa? Sudah ibu mau salat dulu.”

Aku terbengong-bengong. Penasaranku belum selesai, hingga ibu selesai menunaikan salat. Ibu tetap bersikeras kalau itu merupakan ayah. Sedangkan, aku tidak bisa mengelak kalau ibu tidak sedang bercanda, tetapi aku juga tidak dapat mempercayai akan jawabannya. Ibu malah marah padaku, dan ia mengaku sakit hati karena aku menuduhnya telah berbohong. Ibu berlalu ke kamarnya. Dan lucunya, begitu ibu meluapkan amarahnya, aku tidak dapat memberikan perlawanan. Kemarahan ibu bagai sihir yang dapat membuatku diam.

Aku melihat hp ibu ada di dekat foto ayah. Hp itu sedang diisi daya. Ini sebuah kesempatan bagiku untuk menghilangkan rasa penasaran. Aku tahu ibu tidak pernah membuat kata sandi pada hpnya, sehingga itu tidak menjadi halanganku untuk mengetahui riwayat pada kontak nomor telepon. Tidak ada nama yang tertulis pada riwayat panggilan diterima. Apa ibu menghapusnya? Kapan?

Walau penasaranku semakin besar, aku mencoba untuk menahannya. Kamar ibu masih terkunci dari dalam. Rupanya ibu masih tidak menyangka dengan tuduhanku. Dari luar, aku lontarkan permintaan maaf. Ibu bisa-bisa sakit jika tidak makan. Ibu tetap tidak mau keluar. Tapi aku lega saat kembali dari rutinitas, ibu sudah memaafkanku. Hanya saja? Keanehan itu terulang.

Aku kembali memergoki ibu di hari lain, ibu sedang asyik berbicara lewat telepon. Durasinya cukup lama. Kali ini aku memperhatikan dengan saksama. Beberapa kali ibu kembali menyebut panggilan, “Yah”. Jelas tidak mungkin ayah hidup kembali. Aku tidak yakin kalau ibu sedang pura-pura teleponan. Kata-kata pada ucapannya bisa dirasakan kalau itu bukan sebuah kepura-puraan. Ini benar-benar membuatku bingung.

Ibu tetap bilang kalau orang yang diajaknya bicara dalam telepon adalah ayah, bukan orang lain. Kata ibu, ayah sangat rindu dengannya dan aku. Keindahan yang ada di tempatnya tidak mampu mengusir kerinduan itu. Ibu menambahkan, ayah berharap sekali, aku dan ibu segera mengunjungi ayah.

Kupeluk ibu erat-erat, setelah ia memberikan hpnya kepadaku karena aku tidak percaya dengan kata-katanya, bahwa riwayat panggilan telah dihapus dan benar tidak ada sebuah nomor yang menunjukkan kalau ibu beberapa menit yang lalu mendapat panggilan. Kapan ibu menghapusnya? Begitu besarkah rasa rindu ibu pada ayah, sehingga ibu sampai mengkhayal sedemikian miripnya dengan ketidakpuraan?

Hingga kemudian aktivitas ibu bertelepon ria dengan seseorang yang katanya ayah menjadi sebuah rutinitas. Aku pernah bermaksud mengajak ibu ke psikiater dan langsung terkena marah karena aku menganggap dirinya telah gila. Padahal ke psikiater untuk konsultasi belum tentu si pasien gila. Aku juga pernah pergi ke orang pintar, menceritakan masalah yang kuhadapi. Kata orang pintar itu, ada makhluk halus yang menjaganya. Aku pun membayar untuk mengusirnya, tapi hingga beberapa hari kemudian, ibu tetap masih sama. Aku merasa ditipu. Aku juga yang bodoh, bisa-bisanya datang ke orang pintar dan percaya begitu saja.

Keadaan ibu membikinku nelangsa. Selalu ada waktu, di mana air mataku membasahi pipi. Ibu terlalu keras kepala. Segala upayaku menghentikan dari kekonyolan itu selalu berakhir dengan kemarahannya. Kami mulai sering cekcok. Demi apapun, ini membingungkan sekali! Aku tidak pernah mendapati jejak nomor yang tertinggal di hp ibu. Keanehan macam apa ini?

Lama-lama aku jadi menjadi terbiasa dengan apa yang terjadi pada ibu. Aku menjadi terbiasa, bahkan menganggap kalau itu sebagai suatu kewajaran. Semakin hari ibu nampak semakin bahagia. Semenjak aku tidak pernah lagi melarangnya, ibu berani menyampaikan apa yang ia bicarakan dengan ayah di telepon—saat bercerita ibu sangat lancar sekali—yang berinti pada kerinduan. Walaupun terkadang cerita ibu soal ayah ngayawara, aku menikmati saja apa yang ia sampaikan.

Cerita-cerita itu yang diam-diam kunantikan setiap ada kesempatan; kami bersama. Saat makan misalnya. Bahkan aku selalu menunggu mulut ibu terbuka, bercerita soal ayah, baru aku mulai mengambil makanan. Makan sembari mendengarkan ibu bercerita rasa-rasanya lebih nikmat. Namun, saat hari-hariku diisi dengan cerita ibu yang mendamaikan hati, tiba-tiba saja aku mulai khawatir. Tepatnya pada seminggu terakhir ini. Bagaimana bila kemudian cerita-cerita soal ayah tidak lagi kudengar?

Tiba-tiba saja aku begitu takut. Bagaimana bila ibu tidak pernah lagi bercerita, lalu aku dikurung dalam kerinduan yang tak kunjung usai? Lalu bagaimana supaya aku tetap bisa mendengar cerita tentang ayah? Tubuh ibu yang semakin rapuh terbayang dalam kepala. Aku mengkhawatirkan sesuatu. Bila saat yang tidak pernah kuinginkan itu tiba; hari-hariku tanpa ibu. Tapi bukankah usia tidak akan pernah ada yang tahu?

Akankah bila itu menjadi kenyataan, aku akan menelepon ibu, serupa ibu menelepon ayah? Aku tentu tidak tahu. Yang jelas aku tidak akan pernah siap untuk itu.

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tahun 2021. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Kontributor tetap di jejakpustaka.com. Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

Check Also

Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Senin, 16 Januari 2023Dua staf Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *