Home » Artikel » “Globalisasikan Bahasa Indonesia Melalui UKBI Adaptif Merdeka” oleh Syafriani Tio Sari

“Globalisasikan Bahasa Indonesia Melalui UKBI Adaptif Merdeka” oleh Syafriani Tio Sari

Seperti yang kita ketahui bersama, Test of English as a Foreign Language (TOEFL) dikenal sebagai alat tes untuk mengukur tingkat kemampuan berbahasa Inggris seseorang baik aspek berbicara, membaca, menulis, maupun tata bahasa (grammar). Keberadaan TOEFL di Indonesia dianggap semakin lama semakin penting. Era globalisasi memicu persaingan bursa tenaga kerja yang ketat dan kebutuhan pasar akan sumber daya manusia yang berkualitas juga semakin meningkat. Itulah alasannya mengapa TOEFL dianggap sangat penting. Selain itu, mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri atau bekerja di luar negeri harus memiliki sertifikat TOEFL dengan kualifikasi yang telah ditentukan. Kualifikasi tersebut berdasarkan tingkat skor TOEFL.

Ternyata, di Indonesia, ada pula alat uji yang berfungsi untuk mengukur kemampuan seseorang dalam berbahasa Indonesia, yakni Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Namun, keberadaan UKBI sepertinya masih asing di negeri sendiri. Banyak yang tidak mengetahui apa itu UKBI dan seberapa penting UKBI tersebut. Harus diakui bahwa UKBI tidak  begitu populer bagi warga negara Indonesia.

UKBI

Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa menjadi bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari baik secara lisan maupun tulisan. Selain itu, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara yang berfungsi sebagai bahasa resmi negara dan sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Meskipun demikian, apakah kita yakin sudah menggunakan bahasa Indonesia yang standar?

Guna mengetahui penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan standar, diperlukan sebuah alat uji sebagai sarana tes bahasa Indonesia. Gagasan itu diungkapkan pada Kongres Bahasa Indonesia IV tahun 1983 dan Kongres Bahasa Indonesia V tahun 1988. Oleh karena itu, Pusat Bahasa mulai menyusun dan membakukan sebuah instrumen evaluasi bahasa Indonesia. Pada awal tahun 1990-an, instrumen evaluasi itu diwujudkan, dengan nama Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Kini, penggunaan UKBI telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 Tahun 2016 tentang Standar Kemahiran Berbahasa Indonesia.

UKBI merupakan tes standar untuk mengetahui kemahiran berbahasa penutur bahasa Indonesia, baik penutur asli/jati maupun penutur asing, dalam penggunaan bahasa Indonesia ragam lisan dan tulis. Sebagai bangsa yang memiliki bahasa modern yang multifungsi dan memiliki jumlah penutur yang besar, bangsa Indonesia memang harus memiliki sarana evaluasi mutu penggunaan bahasa Indonesia. Tanpa menafikan peran wahana lain, UKBI memiliki fungsi yang amat strategis, tidak hanya untuk meningkatkan kualitas bahasa Indonesia serta penggunaan dan pengajarannya di dalam dan luar negeri, tetapi juga untuk memupuk sikap positif dan rasa bangga masyarakat Indonesia terhadap bahasanya.

UKBI terbagi atas lima seksi, yaitu seksi mendengarkan, seksi merespons kaidah, seksi membaca, seksi menulis, dan seksi berbicara. Soal-soal dalam UKBI disusun berdasarkan tingkat performansi seseorang dalam serangkaian kemahiran berbahasa dengan tujuan yang telah dirumuskan dengan baik. Dengan menjawab soal- soal UKBI, peringkat kemahiran berbahasa seseorang akan diketahui. Peringkat kemahiran tersebut terbagi atas tujuh jenjang, yakni Istimewa, Sangat Unggul, Unggul, Madya, Semenjana, Marginal, dan Terbatas.

UKBI Adaptif Merdeka

UKBI kini bertansformasi menjadi UKBI Adaptif Merdeka, yaitu pembaruan sistem yang mengikuti perkembangan zaman. UKBI Adaptif Merdeka diluncurkan pada awal tahun 2021. Penyebarluasan informasi dan koordinasi pelaksanaan UKBI Adaptif Merdeka secara masif hingga kini masih terus dilakukan.

Diharapkan dengan pembaruan sistem ini, rasa bangga kita terhadap tes UKBI meningkat. Setidaknya UKBI dan TOEFL dapat berjalan beriringan, layaknya sepasang sepatu. Jika TOEFL menjadi salah satu persyaratan untuk melanjutkan jenjang pendidikan S-2, UKBI juga dijadikan sebagai persyaratan yang wajib.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Endang Aminudin Aziz, mengatakan bahwa pembaruan sistem ini terletak pada segi desain uji, platform penyajian tes, dan pelaksanaan tes. Sistem UKBI sebelumnya, pada segi desain uji, setiap peserta mendapat satu paket lengkap berupa 105 butir soal yang terdiri atas tiga desk uji, yaitu mendengarkan, merespons kaidah, dan membaca yang berdurasi 95 menit. UKBI Adaptif Merdeka, soal dan waktu uji untuk setiap peserta berbeda. Tergantung pada estimasi kemampuan peserta yang teridentifikasi oleh komputer. Sistem UKBI sebelumnya, pada platform penyajian tes, soal disajikan dalam bentuk kertas atau melalui komputer secara luring. UKBI Adaptif Merdeka, seluruh mekanismenya dilakukan dengan jejaring internet. Mulai dari pendaftaran, pelaksanaan ujian, dan sertifikasi digital.  Sistem UKBI sebelumnya, pada pelaksanaan tes, peuji dan penguji harus bersemuka. UKBI Adaptif Merdeka, peuji dapat melakukan pengujian di manapun dan waktu dapat dipilih sesuai dengan jadwal.

Meskipun terdengar lebih praktis dan efektif, pengerjaan UKBI Adaptif Merdeka harus didukung dengan fasilitas stabilitas jaringan internet, komputer atau laptop yang memiliki kamera, serta penyuara jemala atau pengeras suara yang memadai.

Ayo, jadikan UKBI Adaptif Merdeka sebagai tuan rumah bagi penuturnya di negeri sendiri. Tunjukkan nasionalisme dengan memupuk sikap positif dan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Globalisasikan bahasa Indonesia dimulai dari UKBI Adaptif Merdeka.

Daftarkan diri Anda melalui laman ukbi.kemdikbud.go.id.

Teruji Lebih Terpuji!

BIODATA PENULIS

Syafriani Tio SariLahir di Medan pada 1 Juli. Kini berada di Tanah Sulawesi.

Check Also

Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Senin, 16 Januari 2023Dua staf Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *