Home » Tokoh » Masyhuddin Masyhuda

Masyhuddin Masyhuda

Masyhuddin memang seorang penyair (sastrawan) lembut nan romantis menghasilkan tujuh kumpulan sajak menggambarkan sebuah perjalanan hidupnya dari kuala (saat remaja) sampai samudra (saat senja).

Sebagai budayawan, ia menghasilkan puluhan tulisan (buku) tentang bahasa dan budaya Sulteng yang sering dijadikan referensi bagi penulis berikutnya. Dan ia sendiri menjadi tempat orang meminta pandangan masalah-masalah budaya daerah ini.

Sebagai Dokumentator seperti HB. Jassin, banyak menyimpan buku-buku seni, sastra, sejarah, antropologi, arkologi dan sebagainya. Semua itu pernah tersimpan di Pusat Dokumentasi Seni dan Sejarah M. Masyhuda di Jl. Tendean No. 3 Palu, salah satu kediamannya. Koleksi buku yang sekitar 5000 itu sudah melapuk dimakan rayap dan melepuh dimakan usia dan kini tersimpan dikediamannya di Jalan Munif Rahman. Sudah bertahun-tahun tak disentuh tangan.

Semuanya itu tinggal kenangan. Sang penyair begawan budaya Sulteng, dokumentator, perintis berdirinya Museum Negeri Sulteng, perintis berdirinya kelembagaan Kanwil Depdikbud Sulteng, salah satu pendiri Dewan Kesenian Palu (DKP) cikal bakal DKST (Dewan Keseian Sulawesi Tengah), sang motivator dan sejumlah predikat pantas buatnya, kini telah tiada.

Masyhuddin Masyhuda
Masyhuddin Masyhuda

Putra Kaili kelahiran Palu, 1 Juli 1935 ini berpulang ke Rahmatullah dalam usia 65 tahun, Sabtu 30 September 2000 pukul 18.30 Wita dan dimakamkan di Pekuburan Silae, Minggu (1/10) 2000 setelah disemayamkan di kediaman Jl. Munif Rahman No. 1 Palu. Almarhum meninggalkan seorang istri, enam orang anak dan delapan orang cucu.

Masyarakat Sultang kehilangan seorang budayawan sejati, sangat sulit ada yang mampu menyamai prestasinya dalam melakukan penelitian dan penulisan soal kebudayaan Sulteng. Sebab, memang budayawan tidak dilahirkan begitu saja secara akademik, melainkan lahir dari kecintaan yang mendalam dan ketelatenan dalam menggeluti dunia budaya dengan memanfaatkan waktu yang luang.

Ketika menjalani masa tuanya, meskipun tengah sakit strok, tangan gemetar dan bicaranya tak lincah, tapi toh sedikit demi sedikit masih menggoreskan penanya di carikan kertas. Itu dijalaninya sejak sakit tahun 1992 yang masih sempat menghasilkan beberapa kumpulan puisi dan sebuah naskah buku cukup tebal berjudul Palu Meniti Zaman (PMZ). Buku sedang dalam proses pencetakan di Makassar ketika sedang menghadap maut. Padahal seyogianya buku ini sudah diterbitkan beberapa tahun silam, tersandung tak adanya dana, sehingga almarhum tak sempat menikmati buku yang sudah lama diimpikan itu, namun sepeninggalnya buku itupun telah dinikmati banyak orang.

PMZ tersebut berisikan sejarah Kota Palu dan sekitarnya secara lengkap dan luas dari zaman prasejarah sampai masa pemerintahan Walikota Ruly A. Lamadjido. Di dalamnya terangkup banyak aspek, pembaca akan terbawa ke masa lampau mengikuti alur perjalanan sebuah kota yang sangat menarik dengan berbagai persoalan sepanjang sejarahnya. Buku tersebut disusun pula dalam bentuk fragmen atau dalam bentuk rangkuman dengan bahasa puitis.

Meski belum sempat diterbitkan sebelum kepergian Masyhuddin, setidaknya buku itu merupakan salah satu persembahan terakhir sang penyair. Sebagai karya besar akan menjadi dokumen monumental bagi sang lilin yang padam buat generasi muda yang hanya tahu menggunakan penerang, tanpa pernah tahu apa dan bagaimana peran sebbatang lilin di kegelapan.

Dalam perjalanan kepenyairannya sejumlah sajak-sajak pernah dihasilkan sejak dekade 50-an hingga akhir tahun 1995. Sajak-sajaknya memang jarang dipublikasikan di media massa, kecuali hanya beberapa buah, tapi penyair romantis ini karya-karyanya sering dibacakan di RRI Studio Lokal Palu tahun 60-an dan sering mengapresiasikan pada siswanya di sekolah SGB Palu tempat ia pertama mengajar sebelum di SMA.

Sarjana muda (BA) alumni IKIP Makassar ini berhasil menulis puluhan karya tulis hasil penelitian berbagai persoalan budaya Sulteng baik secara mandiri maupun tim. Sajak-sajaknya sebanyak 70-an1 buah diterbitkan sendiri dalam bentuk buku oleh Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah (YKST) yang didirikannya, walaupun sebagian dalam bentuk stensilan dan fotokopy. Kumpulan puisinya, antara lain; Kuala dan Jejaka (1971, 1975), Muara dan Petang (1979), Senja di Teluk (1991, 1994), Rembang di Tanjung (1994), Malam di Selat (1994) Larut Malam di Laut (1994), Dini Hari di Samudra (1995) . * (Penulis Jamrin Abubakar, seorang wartawan biasa)

Sumber : https://linosidiru.wordpress.com

About Admin

Check Also

Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Senin, 16 Januari 2023Dua staf Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *