Home » Artikel » Melampaui Teritori dan Derita Komunikasi: Perihal Dua Puisi Kiki Sulistyo
Iin Farliani
Iin Farliani

Melampaui Teritori dan Derita Komunikasi: Perihal Dua Puisi Kiki Sulistyo

Melampaui Teritori dan Derita Komunikasi: Perihal Dua Puisi Kiki Sulistyo

Oleh: Iin Farliani

                Menyoal dua puisi Kiki Sulistyo berjudul “Pengertian Api” dan “Komposisi” seperti berhadapan dengan refren yang begitu luas, juga diksi-diksi yang seakan menuntut lepas dari teritorinya. Pengucapan itu tampak jelas terutama pada puisi “Pengertian Api”. Belum selesai menemukan keterhubungan antara serabut api dengan pengasingan neruda atau hantu-hantu galapagos dengan harum delirium, pembaca dihadapkan lagi pada versi lain dari pengertian api yang ingin dibangun diawali dengan larik sampai di sini, kita ulang dalam lain versi, dan berulang pula diksi-diksi yang tampaknya tak memiliki kaitan serta masing-masing berdiri otonom seperti fakultas ekonomi, gerbang surga, dan cacing kermi. Keterlemparan tiap diksi-diksi itu juga turut membangun lapisan-lapisan tebal sehingga amat sukar dalam pembacaan awal untuk menilai di manakah objek atau apakah objek dalam puisi ini? Kalaupun kita menarik pengertiannya dari judul puisi ini, pengertian api yang coba ditawarkan penyair begitu terlihat seperti susunan puzzle yang sudut-sudutnya bukan untuk menghubungkan demi tergambarnya sebuah objek yang jelas namun menciptakan objek baru yang menanggung segala beban dari refren-refren yang telah disusupkan.

                Larik-larik yang dibangun tampak tak memiliki komunikasi arah yang jelas. Artinya komunikasi seperti benar-benar diputus. Seperti yang diwakilkan oleh larik puisi ini sendiri bahwa puisi ini adalah derita komunikasi. Jugasecara penyusunan bait yang membuka lebar gerbang jarak yang terentang jauh. Larik-larik saling berkelindan tanpa jeda, pun tanda koma yang dihadirkan berkali-kali, urung memberi kesempatan kepada pembaca untuk menarik napas, saling timpa menimpa antar refren seperti ingin menampakkan jangkauan yang luas, namun ternyata jangkauan itu tak memadai untuk dipangkas jaraknya.

                Kita pun bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dipertaruhkan penyair? Apakah kesan ketidakterhubungan antar refren dan diksi yang melampaui teritori itu semata-mata eksperimen penyair? Atau adakah motif dibaliknya bila kita merujuk pada upaya pengeratan yang dicoba demi menjadikannya sebuah pengertian dari api?

                Bila kita kembali pada pengertian puisi maupun penyebutan sajak yang dimulai sejak masa lampau maka pengertian yang selalu diamini yaitu puisi mestilah menyampaikan sesuatu yang banyak dengan kata-kata yang sedikit. Bila mengacu pada bangunan puisi yang coba ditawarkan penyair, kita seperti menemukan refleksi kenyataan sehari-hari di dalamnya. Refren yang berlompatan jauh serta diksi-diksi yang saling bersilangan teritori itu serupa dengan realitas sehari-hari kita yang juga ditimpa banyak refren yang saling menegasikan diri. Realitas yang acapkali kita hadapi di mana terlalu banyak informasi, terlalu banyak fakta yang bukan fakta, begitu tak terhingga refren yang saling jaring menjaring, berjejalan masuk untuk dicerna, diberi interpretasi, dikomentari dengan bermacam reaksi hingga kita telanjur sulit membedakan manakah sebenarnya yang merupakan prioritas, manakah yang patut mendapatkan waktu dan tenaga kita yang berlebih, manakah yang sepantasnya masuk tong sampah saja.

                Bukankah ketidakmampuan dalam menyaring segala informasi yang begitu kuat arusnya itu disebabkan terlalu mudahnya akses untuk mendapatkannya? Alat yang diciptakan dengan tujuan komunikasi misalnya, bisa serta merta membawa kita dari obrolan perihal kabar kawan lama menuju kekonyolan pejabat yang beritanya menjadi headline surat kabar atau penemuan fenomena baru sains yang justru memancing konflik di antara pemeluk agama, tawaran iklan yang lewat saat ada kutukan masif atas kapitalisme. Bila kita memperhatikan judul-judul berita saat ini pun betapa banyak media yang menjadikan hal yang sedemikian recehnya sebagai bahan pemberitaan yang seolah-olah penting. Caption foto artis via sosial medianya mendadak jadi hal yang patut diperbincangkan. Seolah komentar seorang selebriti berpengaruh besar terhadap kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Padahal yang kita lakukan di keseharian begitu berjarak dengan segala informasi yang dijejalkan kepada kita.

                Tumpah ruahnya hal tersebut menjadikan hilangnya batas-batas pengertian dari sekian banyak fitur yang pada mulanya kita amini. Maka kembali pada puisi “Pengertian Api”, kita patut curiga jangan-jangan pengertian dari api yang selama ini kita yakini hanyalah semu, masih perlu dipertanyakan lagi, atau maknanya kian terdistorsi oleh sekian banyak refren yang dijejalkan kepada pembaca melalui puisi ini. Bukankah puisi ini menunjukkan gejala itu? Di mana ia hanya memberi sedikit makna yang tak jauh dari api, terhenti pada larik: serabut api, serat dari rambut pamela paganini/menyala bagai krusifa, selanjutnya ia melompat-lompat menuju neruda, galapagos, fakultas ekonomi, surga, revolusi industri, kolonial, paramedis. Jauhnya ikatan antar diksi-diksi ituseperti mengadopsi cara kerja fenomena yang sedang kita hadapi saat ini perihal kemubaziran informasi yang menghilangkan batas dan mendistorsi makna. Begitulah cara puisi ini melenyapkan pengertian dari api atau barangkali menciptakan pengertian baru perihal api itu sendiri.

                Puisi kedua “Komposisi”, pada pembacaan pertama menunjukkan gejala yang sama seperti pada puisi pertama. Namun, bila puisi “Pengertian Api” lebih kepada substansi, maka puisi “Komposisi” lebih menonjolkan diri pada bentuk. Sesuai dengan judulnya, bentuk yang dimaksud itu pun disusun oleh komposisi yang tak memiliki objektifikasi yang jelas. Begitu abstrak dan tidak memberi kesempatan yang banyak untuk meraba objek apakah yang sedang diurai melalui ciri harum cengkeh dan ampas teh yang bulunya serat jeruk itu. Dunia abstrak itu di akhir ditingkahi oleh dunia realis seperti pada larik Mereka berhadap-hadapan/Demonstran dan dinding dewan/ namun tenggelam lagi ke dalam dunia abstrak di mana dikatakan Ombak warna/membuat pelik paras dunia.

                Sekilas tampak upaya menjejaringkan hal-hal yang jauh, namun puisi “Komposisi” tidaklah sebanal puisi “Pengertian Api”. Kita tak merasa ada jarak yang begitu lebar antara harum cengkeh dengan bunyi jarum di daun-daun. Atau jantan melintas dengan hitam jintan. Diksi-diksi itu masih dalam nada yang sama. Namun bila mengacu pada judulnya, komposisi yang dimaksud dalam puisi ini justru tidak memberi gambaran komposisi dari suatu objek yang dapat ditelaah tunggal, ia lebih berhenti sebagai dunia ide. Mulanya seperti dalam teritori yang serupa tapi jauh lebih otonom. Masing-masing diksi dan larik yang bersambung membicarakan dirinya sendiri. Ini seperti bentuk negasi dari puisi pertama “Pengertian Api”, di mana puisi “Pengertian Api” menyuguhkan diksi-diksi yang bersilangan teritori namun mampu membentuk jaring-jaring dengan lapisan makna baru yang diciptakan dari berbagai refren untuk sebuah pengertian dari api. Sebaliknya, puisi “Komposisi” menyuguhkan diksi-diksi yang teritorinya tidak berjarak, namun justru menggaungkan makna yang terpisah dan tidak saling berjejaring. Keduanya sama-sama mengadopsi gejala realitas sehari-hari kita di mana informasi-informasi baik itu yang terhubung atau pun saling bernegasi tampil secara serentak mengatasi ruang dan waktu.

                Membaca kedua puisi ini tentulah memberikan suatu pemaknaan baru perihal teknik dan pengadopsian dari gejala sehari-hari. Bahwa penulisan karya sastra dalam hal ini puisi dapat merepresentasikan kenyataan  keseharian kita dengan pengucapan yang lebih segar dan berbeda.

Keterangan:

Puisi “Pengertian Api” pernah terbit di Koran Tempo edisi 11 Januari 2020. Puisi “Komposisitermaktub dalam buku puisi Kiki Sulistyo berjudul Dinding Diwani (DIVA Press, 2020).

Biodata Penulis:

Iin Farliani, penulis buku kumpulan cerita pendek berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019). Lahir di Mataram, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Sejak tahun 2013 hingga sekarang masih terlibat aktif dalam kegiatan Komunitas Akarpohon Mataram, sebuah komunitas sastra dan penerbitan buku. Pada tahun 2020, ia terpilih sebagai salah satu Emerging Writer pada Makassar International Writers Festival (MIWF) 2020.

Check Also

Pendampingan UKBI dari Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra di Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Pendampingan UKBI dari PusbinPalu, 20—25 November 2022, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *