Balai Bahasa Sulawesi Tengah

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Bahasa Berita Sastra

MERIAH! FESTIVAL TUNAS BAHASA IBU DIHADIRI MENDIKBUDRISTEK

JAKARTA. Senin malam, 13 Februari 2023, Mendikbudristek berada di tengah ratusan anak peserta Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Nasional di sebuah hotel di Jakarta. Tampak hadir sejumlah bupati dari berbagai daerah, kepala sekolah, guru, dan dosen untuk menyaksikan dan terlibat dalam FTBI Nasional. Selain Mendikbudristek, hadir Kepala Badan Bahasa dan sejumlah pimpinan eselon 1 Kemdikbudristek.
Pembukaan FTBI Nasional diawali dengan suguhan nyanyian berbahasa daerah dari berbagai provinsi. Putra-putri terbaik dari berbagai daerah silih berganti menyanyikan lagu khas daerahnya. Ada lagu Sunda, Jawa, Bugis, Toraja, Ambon, Papua, Ternate, Dayak, Medan, dan lagu daerah lainnya. Dua putri lainnya tampil mendongeng dalam bahasa Batak dari Sumatera Utara dan yang satunya berbahasa Sula dari Maluku Utara.


Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, menyampaikan bahwa dari 718 bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, tidak semua kondisinya terkategori aman. “Revitalisasi Bahasa Daerah dilakukan untuk menyelamatkan bahasa-bahasa daerah dari kondisi kritis dan kepunahan,” jelasnya. Nadiem menjelaskan bahwa penyediaan buku-buku cerita anak berbahasa daerah yang menarik untuk pengayaan pembelajaran, mendorong penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pembelajaran di kelas-kelas awal (kelas 1-3 SD), sehingga anak-anak familiar dengan bahasa daerah, mobilisasi guru, fasilitator, dan pegiat bahasa daerah untuk menjadi narasumber sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan, dan penyediaan forum apresiasi berupa festival bagi penutur muda bahasa daerah yakni FTBI.


Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menyatakan bahwa bahasa daerah merupakan aset negara yang sangat berharga. Di dalamnya terkandung nilai, pemikiran, dan pengetahuan yang adi luhung. Namun, disampaikannya Indonesia dengan 718 bahasa daerahnya menunjukkan daya hidup dan vitalitas yang menurun. Model dan praktik pelestarian bahasa daerah di masa lalu menurutnya lebih menekankan pada aspek pagelaran sastra daerah, bersifat sporadis, dan tidak langgeng. Untuk mencegah terjadi kehilangan kekayaan budaya, program revitalisasi bahasa daerah dengan pendekatan baru perlu dilakukan.
Tahun 2023, Kemdikbudristek melalui Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah akan merevitalisasi bahasa Kaili, bahasa Pamona, bahasa Banggai, dan bahasa Saluan. Pelaksanaan revitalisasi selama 1 tahun dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan komunitas bahasa di wilayah bahasa yang direvitalisasi. (As)

Saksikan video lengkapnya di https://www.youtube.com/watch?v=AtXWYdINNMQ

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *