Home » Artikel » PERKEMBANGAN TEORI CULTURAL STUDIES DALAM KESUSASTRAAN
Lela Erwany
Lela Erwany

PERKEMBANGAN TEORI CULTURAL STUDIES DALAM KESUSASTRAAN

oleh Lela Erwany

            Cultural Studies adalah teori yang berkembang setelah kehadiran teori Historisisme Baru. Dari sudut sejarah perkembangannya cultural studies adalah pecahan dari teori Historisisme Baru itu sendiri. Teori ini asalnya mempunyai berbagai nama yaitu, cultural materialism, cultural poetics dan cultural critics. Istilah cultural studies atau kajiaan budaya sebelum ini, sudah digunakan di kalangan ahli antropologi dan sosiologi untuk meneliti dan memahami kebudayaan.

Cultural Studies dalam bidang sastra, sudah menjadi sebuah  teori sastra dan teori kritik sastra. Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa pemikirannya berasal dari disiplin ilmu budaya antropologi dan sosiologi. Teori ini dikelompokkan sebagai teori konteks bersama dengan teori historikal, marxisme, sosiologi, feminisme dan historisisme baru, yaitu teori yang mengkaji atau menganalisis teks-teks sastra yang melihat hubungan, peranan, dan fungsinya kepada pembaca (Sikana, 2009: 421).

Cultural Studies sebagai sebuah teori sastra bermula dari disiplin ilmu budaya itu sendiri. Oleh karena itu, tertebih dahulu harus dipahami konsep budaya dan pendekatan-pendekatan kajian, supaya dapat dilihat kesinambungan untuk membentuk sebuah teori berorientasikan sastra. Budaya sebagai sebuah disiplin ilmu mempunyai sejarah yang panjang dan berliku, konsepnya saja begitu banyak, namun perlu ditelusuri untuk mendapat pemahaman tentang teori studi budaya ini.

Edward B. Tylor mendefenisikan kebudayaan sebagai satu keseluruhan yang kompleks yang mengandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, akhlak, undang-undang, dan adat,serta kelakuan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Defenisi ini terlalu terkenal sehingga mempengaruhi disiplin-disiplin ilmu yang lain. Sampai saat ini, defenisi ini masih sering digunakan apabila seseorang hendak berbicara tentang konsep dan tafsiran tentang budaya. Sebagai suatu keseluruhan, setiap aspek kehidupan menyokong aspek yang lain umpamanya, nilai dan norma menyokong kegiatan ekonomi.

Teori Cultural Studies ini sebagian berawal dari teori Historisisme Baru, kemudian teori ini berdiri sendiri sebagai sebuah teori. Historisisme Baru ini dibina oleh golongan new historian dengan slogannya back to the history, tokohnya yang paling terkenal adalah Stephen J. Greenblatt, yang pada awalnya dinamakan dengan cultural poetics atau puitika budaya. Dengan kata lain, objek kajian dari Historisisme Baru selain sejarah juga kebudayaan. Historisisme Baru ini kemudian berkembang di Inggris, mereka menamakan diri sebagai cultural materialism atau materialisme budaya.

Ada perbedaan pandangan antara  historisme baru dengan cultural materialism, historisme baru lebih cenderung menggunakan pemikiran Foucault tentang konsep sejarah dan kekuasaannya, sementara materialisme budaya lebih cenderung ke pemikiran Richard Hoggart dan Raymond Williams. Dapatlah ditegaskan bahwa teori sastra Cultural Studies berasal dari pemikiran sastra dan metode kritik yang digunakan oleh Richard Hoggart dan Raymond Williams, yang keduanya berakar pada tradisi kritik Marksisme British. Tetapi hanya sebagian pemikiran saja yang diwarisi oleh materialisme budaya ini dari Marxist, yaitu tentang konsep perubahan. Oleh karena itu, teori ini tidak dapat dikatakan sebagai pecahan dari teori Marxisme, tetapi hanya sebagai warisan pemikiran yang telah membentuk dirinya dan membedakannya dari teori asalnya.

Richard Hoggart adalah seorang dosen sastra Inggris di Universitas Birmingham dan pendiri Centre for Contemporary Cultural Studies. Bersama Raymond  Williams dan E.P.Thompson, mereka mencoba mempertahankan kebudayaan kelas pekerja di Inggris dan Eropa dari serangan budaya massa yang diproduksi oleh industri-industri budaya yang terjadi di Amerika. Hoggart melakukan penelusuran historis atas institusi dan perjuangan kelas pekerja Inggris (1963).

Sementara itu Hoggart dan Williams melakukan pembelaan terhadap budaya dan pendidikan kelas pekerja, serta perlawanan mereka terhadap budaya massa. Hal ini dapat dilihat sebagai proyek sosialis dan kelas pekerja yang menganggap bahwa kelas pekerja industrial sebagai satu kekuatan perubahan sosial prograsif yang dapat dimobilisasi dan diorganisasi untuk berjuang melawan ketidakadilan yang ada dalam masyarakat kapitalis (Kellner, 2003:212). Hoggart dan Williams yang terlibat banyak dalam pendidikan kelas pekerja dan politik kelas pekerja sosialis melihat bahwa bentuk cultural studies mereka sebagai instrumen perubahan sosial yang progresif. Kritik yang dilakukan Hoggart dan Williams terhadap Amerikanisasi dan kebudayaan massa sejalan dengan apa yang dirumuskan oleh Mazhab Frankfurt dimana ilmu pengetahuan dapat berfungsi sebagai pencerahan dan emansipatoris (Lubis,2006).

Williams sangat berminat dalam kesusastraan. Dia masuk ke dalam dunia sastra dan kritik sastra. Dalam kajiannya, pemikiran dan analisisnya berasaskan kepada teks-teks sastra romantisme. Baginya karya jaman romantisme menggambarkan perjuangan manusia untuk mencari makna kehidupan yang sesungguhnya. Teks-teks romantisme memiliki unsur-unsur kemanusiaan yang mendalam dan semangat revolusioner. Walaupun Williams mengkaji Marxist tapi dia menolak konsep pertentangan kelas Marxisme.

Pada tahun 1957, Williams dalam Culture and Society memahami budaya sebagai konteks budaya produksi. Pada mulanya, Cultural Studies ini berusaha mengkaji sastra dengan melihat unsur-unsur budayanya supaya dapat dibawa ke kurikulum pengajaran sastra di sekolah. Usaha ini berhasil dan mereka mulai menyusun dan mensistemasikan teori ini supaya lebih teratur sebagai sebuah pendekatan sastra. Akhirnya Cultural Studies sangat berpengaruh dalam penilaan sastra dari sudut budaya dan mereka terus-menerus memantapkannya untuk menjadi sebuah disiplin dan teori sastra. Kemudian, teori ini berkembang dalam jalur pendidikan dan keilmuan, artinya orientasi utama kajiannya adalah aspek yang berhubungan dengan pendidikan. Dengan demikian, pada tahun 1960-an, sastra dengan teks-teks kreatrifnya dan kritikannya mulai memenuhi idiologi budaya. Pengaruh materialisme budaya dengan cepat berkembang sesuai dengan situasi masyarakat dewasa ini (Sikana, 2009).

Pada tahun 1970-an, cultural studies dimasuki oleh pemikiran dan konsep yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci, yaitu tentang hegemoni. Roger Webster mengatakan bahwa Teori Studi Budaya sangat berhutang budi dengan konsep hegemoni ini melalui pemikiran Gramsci: the Italian Marxist philisopher Antonio Gramsci, writing in the 1930s, anticipated some of Althusser’s theories on idiology; have been influential in th area now known as Cultural Studies. Konsep hegemoni mempunyai hubungan dengan idiologi, kekuasaan, dan pengaruh. Dalam masyarakat modern pihak penguasa melakukan eksploitasi kepada bawahannya dengan pengaruh yang dimilikinya.     

Kemudian cultural materialism dimasuki oleh pemikiran Louis Althusser yang memasukkan konsep cultural dentification dan social control. Begitu juga masuk pemikiran Jacgues Lacan, psikoanalisis struktural yang meneliti sastra secara kejiwaan dalam hubungan bawah sadar individu dan masyarakat.  Pada tahun 1980-an masuk lagi  satu pemikiran gerakan sastra yang berpengaruh pada waktu itu yaitu pascastrukturalisme. Dengan sendirinya diterima gagasan pemikiran Barthes, Derrida, dan Kristeva yang membentuk teori sastra pascastrrukturalisme, yang pendekatannya kepada semiotik yang telah berpecah penandanya. Pada tahun 1980-an, itulah cultural materialism muncul sebagai teori sastra yang bergabung dengan Historisisme Baru. Penjelmaannya sebagai cultural materialism di Inggris ini mendapat kedudukan yang istimewa, karena  membawa nafas yang berbeda dengan teori-teori yang muncul di prancis (Sikana, 2009).

Akhirnya pada tahun 1990-an, cultural materialism mengeluarkan dirinya dari Historisisme Baru dan berdiri sendiri sebagai sebuah teori sastra yang diberi nama theory of cultural studies. Menurut Simon, ada tiga tuntutan terhadap teori ini, pertama di dunia global sekarang ini berlaku hubungan antara rasionalisme ekonomi dengan nasionalisme, semakin dibuka batas antara rasinalisme ekonomi dengan nasionalisme, ekonomi akan merajalela dan jurang antara yang kaya dengan yang miskin semakin meluas. Ini akan membahayakan. Kedua, generasi sekarang selalu memandang budaya lama dianggap usang, seandainya hal ini berkelanjutan, bangsa Eropah akan kehilangan wibawahnya. Ketiga, korupsi keilmuan dan universitas di  Eropah dan Amerika. Hancurnya nilai-nilai akademik dalam kehidupan intelektual kampus. Mengecam profesor yang menjadikan universitas bukan lagi tempat berpikir (Sikana, 2009).

Sebagai sebuah teori konteks, cultural studies, menanggapi teks yang dikaitkan dengan fenomena budaya, pergolakan yang terjadi, kesan dan yang penting penafsiran terhadap pembudayaan itu sendiri. Dunia global bayak membicarakan tentang konsep kekuasaan, kekuasaan sangat akrab dengan pengetahuan, justru akan membentuk idiologi, dengan sendirinya kedudukan pendidikan itu penting. Oleh karena itu, cultural studies dalam beberapa hal banyak membicarakan dunia intelektual, epistimologi dan pergolakan yang terjadi di institusi keilmuan itu sendiri. Teori ini mengkaji dan menganalisis teks dari aspek-aspek politik, tetapi lebih menekankan konsep kekuasaan, peranan individu dalam mencari identitas diri dan refleksi diri dalam sastra pascamodern, dan menjurus pada pembentukan masyarakat dan membina kehidupan. Sebagai teori kontekstual, sangat mementingkan fungsi karya dan hubungannya dengan masyarakat. 

Biodata Penulis:

Lela Erwany. Dosen Universitas Amir Hamzah.

Check Also

Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Senin, 16 Januari 2023Dua staf Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *