Home » Cerita Pendek » “Pertemuan” Karya Elisa D.S.
Cerpen Cerita Pendek "Pertemuan
Cerpen Cerita Pendek "Pertemuan"

“Pertemuan” Karya Elisa D.S.

PERTEMUAN

Oleh: Elisa D.S.

Semalam, kakiku kembali menjejak tanah kelahiran bersama Riska, putriku semata wayang yang berusia empat tahun. Kedatangan kami disambut ibu dengan ciuman bertubi-tubi. Maklum, selepas wisuda, aku merantau ke Bogor dan menetap di sana hingga saat ini. Ratusan kilometer jarak dan pengapuran tulang di kedua lutut, membuat ibu tak pernah sekali pun berkunjung, termasuk saat dua peristiwa penting terjadi; pernikahanku dan kelahiran cucunya.

Pagi yang teramat dingin. Kabut tebal menutupi puncak dan sebagian kaki Gunung Panderman. Suara bising kendaraan mulai meramaikan jalan utama Surabaya – Batu. Sayup-sayup, terdengar tawa Riska dan Bude Fat, tetangga belakang seumuran ibu yang sudah seperti saudara sendiri. Aku pun bergegas menghampiri mereka.

Riska bermain boneka ditemani ibu dan Bude Fat di balai-balai bambu, tepatnya di sebelah rumah besar yang terlihat suram seperti tanpa penghuni.  

Tatkala menatap hunian yang menyimpan sepenggal kenangan tersebut, mataku tiba-tiba berlomba dengan Gunung Panderman; penuh kabut.

***

Sesosok pemuda ganteng berpotongan bak tentara, berkulit cokelat dengan selarik kumis tipis yang menambah poin di mata para gadis, memenuhi benakku. Namanya Jaka, putra semata wayang dari anggota dewan sekaligus penanam saham terbesar sebuah hotel berbintang dan beberapa vila di Batu. Ibunya seorang dokter spesialis kandungan dan pemilik klinik bersalin ternama di Surabaya.

Dulu, teras rumahnya yang luas dan semarak dengan tanaman hias itu menjadi tempat yang nyaman untuk mengobrol, terutama saat aku, dia, Icang, dan Lastri semangat membahas kegiatan karang taruna.

Sayang, kondisinya saat ini tak terawat. Terlihat beberapa pot berisi tanaman yang sudah mengering. Satu-satunya pesona teras adalah sekuntum mawar jingga di tengah keriuhan rumput liar di sekitarnya. Seekor laba-laba besar membuat sarang di pojok, membuat kondisi rumah semakin mengenaskan.

Menurut cerita ibu, sejak kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya dua tahun silam, Jaka hidup sendirian. Kedua kakak perempuannya yang telah menikah berdomisili di luar kota.

“Kupu-kupu!”

Teriakan Riska membuyarkan lamunanku.

Donat meses warna-warni sudah tak menarik minatnya lagi. Seekor kupu-kupu berwarna kuning cerah hinggap sejenak di daun beluntas, kemudian terbang lagi. Riska terlihat gemas tatkala tangannya gagal menggapai buruan.

Kupu-kupu cantik itu hinggap di pagar rumah Jaka yang hampir ambruk dimakan karat.

Aku menahan napas. Kenangan akan sebuah pohon kersen yang menjulang dekat pagar tersebut tiba-tiba terlintas.

“Wah, banyak yang merah. Ambilin, dong, Jak!”

Jaka yang masih memakai seragam putih biru bergegas memanjat dengan sigap, lalu turun dengan saku penuh berisi buah kecil-kecil berwarna merah. Matanya berbinar meskipun kemeja putihnya berhias bintik-bintik kecokelatan terkena buah kersen yang sudah masak.

“Maaf, seragammu jadi kotor, Jak.”

“Nggak masalah. Apa pun akan kulakukan asal kamu senang, Ris.”

Aku tersenyum malu-malu.

Cinta monyet semasa SMP itu berlangsung hingga bangku kuliah. Hebatnya, tak ada seorang pun yang tahu tentang hal ini, termasuk orang tua kami.

Kencan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Icang dan Lastri yang sedikit curiga, beberapa kali melontarkan candaan jika aku dan Jaka adalah pasangan kekasih. Kami selalu mengelak dengan alasan yang tepat; wajar jika ketua dan sekretaris karang taruna terlihat akrab.

Sehari selepas wisuda, aku mengantarkan sepiring nasi kuning lengkap dengan kering tempe, abon, irisan telur dadar serta ayam goreng ke rumah Jaka.

“Tumben sepi?” Aku celingukan.

“Bapak sama ibu menghadiri pernikahan anaknya teman bapak di Surabaya. Mbak Wida dan Mbak Yuli ke Singosari.” Jaka keluar kamar dengan bertelanjang dada. Aroma wangi menguar. Tetes air berjatuhan dari rambutnya.

Kami sama-sama terdiam, tak tahu harus bicara apa. Demi menghindari jerat pesona Jaka dan bisikan setan sebagai pihak ketiga, aku pun segera berpamitan.

***

“Rumah Jaka kelihatan kumuh ya, Bu.” Aku membuka percakapan saat menyiapkan sarapan. “Apa dia belum nikah sampai sekarang?”

“Nikah gimana? Dia itu sekarang kayak gini.” Ibu menyerongkan telunjuknya ke dahi.

 “Astaghfirullah. Kenapa ibu nggak pernah cerita setiap kali kutelepon?”

Maafin ibu, Riris. Ibu nggak mau kamu sedih karena kalian dulu pernah akrab. Entah kenapa Jaka berubah seperti itu. Kata Bu Fat, dia sering melamun sejak pulang dari Jawa Barat.”

“Mungkin, ada sesuatu yang terjadi di sana, Bu.”

“Bisa jadi. Bu Fat sering dengar Jaka menggumam dan menanyakan keberadaan istrinya. Sayangnya, setiap kali ditanya lebih jauh, dia selalu menggeleng. Setahun belakangan ini, Wida membawanya ke RSJ. Lawang. Ibu mengira Jaka sudah sembuh. Ternyata, seminggu silam, dia teriak-teriak di pekarangan sambil bawa kayu, berlagak main silat seperti pendekar. Pak RT sudah menelepon mbak-mbaknya, tetapi sampai saat ini, mereka belum muncul juga.”

Hatiku teriris mengetahui nasib Jaka seperti itu. Unfortunately, the show must go on. Apa pun bentuk kesedihan yang menghampiri, hidup harus tetap berjalan.

Kulanjutkan kesibukan menyiapkan sarapan berupa nasi hangat, tempe, ayam goreng, mentimun, kemangi,  serta secobek sambal terasi. Setengah jam berikutnya, sayur bayam dengan potongan jagung manis untuk Riska sudah siap.

Ibu membuka dandang berisi pisang kukus. “Ibu ke Bu Fat dulu, Ris. Mumpung pisangnya masih hangat.”

“Kok, bawa dua piring, Bu?”

“Iya, yang sepiring buat Jaka. Biar nanti diantarkan Bu Fat ke rumahnya.”

Riska yang asyik menonton televisi, buru-buru menguntit Ibu.

Sepuluh menit kemudian, ibu pulang sendirian. “Mana sarapan buat Riska? Biar ibu suapin, mumpung dia asyik main di rumah Bu Fat.”

***

Senja mulai menyapa. Aku mengeluarkan sebuah album dari laci meja. Foto empat sahabat terlihat mendominasi. Masa-masa remaja yang ceria dan tak mungkin bisa diulang kembali.

Saat ini, Icang menjadi pengacara di ibukota provinsi. Kami berdua sering berkomunikasi melalui jejaring sosial. Lastri memilih profesi sebagai dokter spesialis kandungan di Jakarta. Meskipun dulu ibu tidak bisa mendampingiku saat kelahiran Riska, aku merasa tenang karena Lastri yang menanganinya. Jaka … tentu saja, aku prihatin mendengar kisahnya seperti yang dituturkan ibu tadi.        

Tentang aku, kuceritakan sedikit saja. Bak sinetron di layar kaca, calon suamiku mengancam akan bunuh diri jika rencananya untuk menikahiku tak mendapat restu. Mau tak mau, kedua orang tuanya terpaksa mengibarkan bendera putih. Namun, mereka menetapkan syarat yang cukup berat. Pernikahan kami harus dirahasiakan, termasuk ke ibuku sendiri.

Pilihan apa lagi yang kupunya, selain terpaksa mengangguk meskipun hati berdarah. Sudah menjadi rahasia umum, pejabat yang gila hormat tak ingin kehilangan martabat karena anaknya menikahi gadis dari keturunan tak berpangkat.

Aku berkirim kabar ke ibu, jika lelakiku adalah sosok menantu idamannya; pekerja keras dan bertanggung jawab. Restu ibu pun turun tanpa berbelit. Ayah dan ibu sama-sama anak tunggal. Karena itu, wali hakim yang menikahkanku karena ayah sudah berpulang saat aku kuliah semester tiga.

Sebulan setelah pernikahan, suamiku dijemput paksa oleh tiga lelaki berbadan kekar. Dengan suara menggelegar, salah seorang dari mereka memaksaku untuk menandatangani surat perjanjian bermaterai. Malam itu juga, surga hilang dari rumah, tergantikan dengan selembar cek dari mertua.

Semua kepahitan kutelan sendiri. Kutumpahkan nyeri pada ibu melalui telepon dan mengabarkan jika suamiku telah meninggal karena kecelakaan.

Keesokan paginya, aku tergugu memegang testpack.

Dering beker membuyarkan lamunanku. Jam tiga sore. Kucium pelan Riska yang masih pulas. Omongan Bude Fat tadi siang kembali terngiang.

“Riska itu bocah pemberani. Dia ikut aku nganterin pisang rebus ke rumah Jaka. Kalau anak lain, jangankan mendekat … melihat Jaka dari kejauhan saja sudah takut. Maklumlah, cambang sama kumisnya lebat tak terawatdan selalu melotot kalau bertemu orang. Eh, si Riska malah ngoceh sambil mainin cambangnya Jaka. Aku tadi sudah deg-degan, takut kalau Jaka ngamuk. Apalagi, mereka baru pertama kali bertemu. Nggak tahunya … anakmu justru digendong dan bolak-balik diciuminya.”

Aku geragapan tatkala Riska mengigau sambil menggaruk-garuk pahanya. Sejurus kemudian, ia kembali nyenyak seraya memeluk guling.

Tetes hangat membasahi sudut netra. Sepandai-pandainya aku menyimpan rahasia besar ini, ikatan bapak dan anak tak akan bisa dibohongi.

Biodata Penulis:

Elisa D.S. Bertempat tinggal di jalanDenpasar 20, Perumahan Gresik Kota Baru, Gresik – Jawa Timur.

Check Also

Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Senin, 16 Januari 2023Dua staf Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Pelantikan Pejabat Fungsional Widyabasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *