Home » Puisi » Puisi “Ladang Kering, Menjadi Manusia, Bertemu dan rindu” Kumpulan Puisi Oleh Muhammad Fadli Muslimin
Muhammad Fadli Muslimin
Muhammad Fadli Muslimin

Puisi “Ladang Kering, Menjadi Manusia, Bertemu dan rindu” Kumpulan Puisi Oleh Muhammad Fadli Muslimin

Ladang Kering

Sawah dan irigasi beralih fungsi
sengkedan meracau luapan air bah
menyeret muntahan bumi ke permukaan
menangis seisi bumi menghujat sang pemilik

Ladang-landang gandum telah kering kerontang
tiada hijau di ladang tandus
merekah tanah subur 
cacing-cacing berselimut kafan

Gunung-gunung mulus tanpa rambut
sisir tiada kuasa merapikan kulit
subur hanya nostalgia era otoriter
gerah silam di puncak pendakian

Milenial tertatih menimba air di sumur
lupa cara menarik dan menjatuhkan
gayung diberi seutas tali panjang
disangka memancing di lautan bebas

Ikan-ikan berenang di air asin
sementara lautan berjarak setahun berjalan
siripnya semakin panjang dan tajam
insangnya tinggi menjulang ke langit

Batang pohon indah di pekarangan kastil
burung-burung hinggap tidak lagi di jendela
bola mata hitam tanpa putih
cakarnya tumpul paruhnya tajam

Menjadi Manusia

Aku manusia, dia manusia

Kamu manusia, kalian manusia

Kita manusia, mereka manusia   

Kami manusia, dan mati sebagai manusia

Warna kulit, terang dan gelap

Warna mata, cerah dan kelabu

Sentuhan yang sama ciptaan tuhan

Tatapan yang sama anugerah tuhan

Tapi mengapa kita berbeda

Aku bertuhan dan engkau pun iya

Engkau tak bertuhan tapi itulah tuhanmu

Aku menghargai yang tak bertuhan

Dan engkau pun menghargai yang bertuhan

Tapi mengapa kita berbeda

Aku berbahasa dan engkau pun berbahasa

Meski logat tuturan tak sama

Aku tetap menatap dan bernyanyi bersama

Terkadang aku lelah berbahasa

Tapi kita tetap bersuara

Dan tiada satu hati berhasrat berselisih

Diam di antara dua pesona

Merajuk asa pengabdian diri

Dibalut angan-angan Pancasila

Aku menanti persaudaraan

Mengadili dan diadili dalam majelis

Memandang tak seperlunya sinis

Mendengar tak seperlunya

Berbicara sarkastis

Karena aku adalah kamu yang terpisah

Merayakan syahdu bulan purnama

Di bawah guyuran hujan malam

Tanpa awan dan tanpa gelisah

Terhadap kepastian, purnama dibalut kasih hujan

Bertemu dan rindu

Yang terdekat adalah yang terjauh

Ia bertemu setahun sekali

Sekali bertemu melepas rindu

Rindu menjadi-jadi

Tapi apa jadinya jika ia terhalang yang tak pasti

Anti terhadap yang empati

Memanggil yang sehati, ternyata sesusah mengumpulkan yang terkasih

Entah ia berlalu atau enggan dilalui

Mungkin saja benar apa kata mereka

Andai tak pernah terjadi

Jadinya kita akan berjumpa

Menjadi api yang tak kunjung padam

Sembari menanti sesuatu yang pasti.

Hati-hatilah pada yang berarti

Karena bisa jadi hatinya berpaling

Aling saja semua pintu yang ada

Biodata Penulis:

Profil

Muhammad Fadli Muslimin adalah seorang penulis yang merupakan apresiator sastra berasal dari Makassar. Lahir di Ujung Pandang 12 Agustus 1991. Saat ini aktif sebagai pegiat sastra yang peduli pada perkembangan sastra di Indonesia secara akademik dan non-akademik.

Check Also

Pendampingan UKBI dari Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra di Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Pendampingan UKBI dari PusbinPalu, 20—25 November 2022, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *