Balai Bahasa Sulawesi Tengah

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Puisi

Puisi “Petrikor” karya Ahmad Maulidi

Dan gerimis kembali mengukir kisah

Menyatakan perasaannya terkenang dan terhempas

Pada dinding-dinding kerinduan di tengah kota

Tersemat rasa tentang harapan yang ingin bersua

Dan hujan turun menyisir batas pengalaman

Di ujung penantian berharap rindu itu terbalaskan

Adalah kenangan serupa lampu-lampu jalan

Yang saling mendekap oleh hangatnya cahaya malam

Rindu itu harus bertepi

Seperti laut, angin, dan gunung

yang berbatas

Rindu itu harus berhenti

Ibarat surat, chat, dan telpon

yang tak mesti terbalas

Ingin kamu apakan rasamu?

Sekiranya gerimis yang kau harap menjadi hujan

Justru terhenti tak bergeming

Tak menyisakan sedikit pun petrikor untukmu

Sudahi setiap rasa yang kamu lahirkan

Nikmatilah sendumu di pertengahan waktu

Dibanding harus bersedu sedan di akhir usiamu

Biarkan rintik gerimis menjadi milikmu

Biarkan ia bercerita bersamamu

Biarkan hujan lepas dari genggamanmu

Karena hujan tak bisa menjadi milikmu

Ahmad Maulidi, aktif sebagai tenaga pengajar di salah satu SMA swasta yang ada di kota Palu. Kegiatan menulis sudah dilakukan sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Beberapa karya puisi pernah dimuat di harian lokal kota Palu Radar Sulteng dan Mercusuar, juga tulisan esai termuat dalam buku kumpulan esai Guru Bisa Menulis yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *